Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Oslan Husein

oslan_husein_2Perpisahan Oslan Husein

Oslan Husein telah tiada. ia meninggal di RS Ancol Jakarta, dalam usia 41 tahun. selain sebagai penyanyi, ia duet dengan Alwi. lagu Kampuang Nan Jauh Dimato, Ombak Buruih, adalah sebagian lagunya.

PADA saat terahir dia tidak menyanyi, meskipun dia seorang penyanyi yang baik. Di rumah Sakit Ancol sejak bulan Pebruari yang lalu, dia memegang hari-harinya yang penghabisan.
Kawan-kawannya banyak bersimpati, tetapi hanya simpati. Maut menghampiri tubuhnya yang tipis dan membawa nyawanya pergi pada usia yang ke-41. Usia yang sesungguhnya masih banyak mempunyai harapan.



"la seorang kawan yang tak pernah minta balas jasa", puji teman seperjalanannya sejak tahun 1958 yang beranama Alwi. Kawan ini dapat bercerita banyak kisah perantaun Oslan dari tanah Minang sampai ke Kramat Sentiong Jakarta. Oslan Husein nomor empat dalam 7 bersaudara, keturunan pedagang kain Para Karambia yang bernama Husein itu, telah menemukan dirinya di Jakarta di awal tahun 1950. Rupanya disamping memiliki sisa keuletan sebagai bekas Tentara Pelajar, ia juga pandai menghibur. Namun sebagaimana kata Alwi Oslan bukan pelawak, walaupun memang kelihatan selera humornya lumayan. Dia tidak salah memilih bidang, sehingga tersalurlah suaranya yang lantang dan penuh getaran itu dalam rekaman-rekaman yang digemari orang ramai.

Gelombang suaranya yang memberi warna genit kepada seni vocal pop yang mulai tumbuh menempatkan lagu-lagunya seperti: Kampuang nan djauh dimato, Ombak buruih, Urang Tolong, Sinandi-nandi menjajah pasar. Dengan orkes bernama Taruna Ria, Oslan dapat menjajarkan dirinya setempat dengan orkes Gumarang dan Kumbang Tjari.

Negara. Diluar jabatan penyanyi duet Alwi dengan Oslan sebagai pelawak, memang tidak berhasil. Tetapi toh tjukup membuat segar film-film dimana ia ikut menunjukkan tampangnya yang has. Sejak film bernama "Detik-Detik Berbahaya" tidak kurang dari 30 buah film yang dicampurinya. Dari sana kegiatannya merembes ke panggung-panggung hiburan. Perbedaan menjolok antara struktur tubuh dan materi suaranya, membuat ia selalu muncul dengan menarik. Apalagi segores kumis tipis yang tak mau dikeroknya, mengumpulkan kesan optimis diatas mukanya yang selalu cerah, walau pundaknya yang sedikit lengkung membayangkan suatu derita.

Terahir dia muncul di panggung tatkala menjadi pembawa acara dalam malam halal bihalal perantau-perantau Minang awal tahun ini. Di sana dengan lucunya Oslan bertegur sapa dengan para pencopet, agar sementara waktu menghentikan kegiatannya.

Ahir Juli yang lalu, Oslan masih sempat pulang ke rumahnya dan nonton permainan raja bola Pele. Kepergiannya kembali ke RS Ancol ternyata merupakan perpisahan selamanya dengan Kramat Sentiong dimana Darlius Nida isterinya kemudian menumpahkan air mata untuknya. "Almarhum hanya bilang akan keluar kota", kata Alimir Husein, adik Oslan mengenang peristiwa itu dengan perasaan terharu. Sementara itu Alwi, sempat mendengar kalimat berharga Oslan menjelang kepergiannya. "Kalau saya meninggal", demikian kata penyanyi gigih itu, "saya baru memberi sedikit saja buat negara dan bangsa".

Tempo Edisi. 26/II/02 - 8 September 1972
http://oplet.blogspot.com/2007/06/oslan-husein.html

0 comments:

Post a Comment

Music Art Blogs - BlogCatalog Blog Directory
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More